I should also research if there are any cultural nuances in Indonesian literature that need to be considered. Names like Natsuya might be a mix of Japanese and Indonesian, so clarifying that would help. Ensuring that the story is respectful and does not perpetuate stereotypes or inappropriate content is essential.
Keduanya tertawa, dan dari senyuman, keakraban mulai terasa. Kaisan mulai mampir ke toko kue tempat Natsuya bekerja sambilan. Mereka berbagi cerita hidup, dari hobi hingga mimpi. Natsuya, yang suka musik, terkesan dengan keterampilan Kaisan menggambar suasana hati melalui ilustrasi. I should also research if there are any
Puncak keakraban terjadi saat Kaisan memperlihatkan karya yang menggambarkan kota mereka, dengan Natsuya di tengah-tengahnya. Ia berkata, "Kau adalah simbol keindahan di kota ini." Dalam kehidupan yang sederhana, cinta mereka berkembang. Natsuya dan Kaisan mulai mempertimbangkan rencana masa depan. Natsuya ingin Kaisan menemani perjalanan karyanya, sementara Kaisan ingin menjadi ilustrator buku cerita Natsuya. Keduanya tertawa, dan dari senyuman, keakraban mulai terasa
"Kita seperti kue yang dipanggang berbarengan—rasanya tidak dapat dipisahkan," kata Natsuya. " kata Natsuya.